Cari di Blog Ini

Senin, 27 Januari 2025

Tujuan Umum Bimbingan dan Konseling


Tujuan umum bimbingan dan konseling berdasarkan Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 adalah membantu peserta didik atau konseli agar dapat mencapai kematangan dan kemandirian dalam kehidupannya serta menjalankan tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek pribadi, sosial, belajar, karir secara utuh dan optimal124.

Selain itu, tujuan khusus layanan bimbingan dan konseling ditetapkan untuk membantu konseli agar mampu:
  1. Memahami dan menerima diri dan lingkungannya
  2. Merecankaan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir, dan kehidupannya di masa yang akan datang
  3. Mengembangkan potensinya seoptimal mungkin
  4. Menyesuaikan diri dengan lingkungannya
  5. Mengatasi hambatan atau kesulitan yang dihadapi dalam kehidupannya
  6. Mengaktualisasikan dirinya secara bertanggung jawab
Hal ini dikonfirmasi oleh sumber-sumber yang menyebutkan bahwa tujuan khusus layanan bimbingan dan konseling adalah untuk membantu konseli dalam hal-hal tersebut di atas234.Namun, jika kita melihat dari perspektif SKKPD (Standar Kompetensi Kegiatan Pembelajaran), tujuan khusus bisa digolongkan ke dalam tiga tahap:
  1. Pengenalan, untuk membangun pengetahuan dan pemahaman peserta didik atau konseli terhadap perilaku atau standar kompetensi yang harus dipelajari dan dikuasai.
  2. Akomodasi, untuk membangun pemaknaan, internalisasi, dan menjadikan perilaku atau kompetensi baru sebagai bagian dari kemampuan dirinya.
  3. Tindakan, yaitu mendorong peserta didik atau konseli untuk mewujudkan perilaku dan kompetensi baru itu dalam tindakan nyata sehari-hari6.
Meskipun begitu, kedua jenis tujuan—tujuan umum dan tujuan khusus—tetap saling terkait dan berintegrasi dalam mencapai perkembangan optimal bagi peserta didik atau konseli

Esensi Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar


Esensi bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar (SD) memiliki karakteristik yang membedakannya dari Sekolah Menengah (SMP dan SMA). Berikut adalah beberapa poin penting mengenai perbedaan tersebut:

1. Peranan Guru dalam Bimbingan

  • Fokus pada Guru Kelas: Di SD, bimbingan lebih menekankan pentingnya peranan guru dalam fungsi bimbingan. Dengan sistem guru kelas, guru memiliki lebih banyak waktu untuk mengenal siswa secara mendalam, yang memungkinkan terjalinnya hubungan yang lebih efektif14.

2. Pendekatan Bimbingan

  • Fokus Preventif dan Pengembangan Diri: Bimbingan di SD lebih menekankan pada pendekatan preventif, pengembangan pemahaman diri, pemecahan masalah, dan kemampuan berhubungan secara efektif dengan orang lain12. Ini berbeda dengan SMP dan SMA yang lebih fokus pada masalah yang lebih kompleks.

3. Keterlibatan Orang Tua

  • Partisipasi Orang Tua: Bimbingan di SD lebih banyak melibatkan orang tua dalam proses bimbingan, mengingat pengaruh signifikan mereka terhadap perkembangan anak45.

4. Pemahaman Unik tentang Kehidupan Anak

  • Pendekatan Individual: Bimbingan di SD hendaknya memahami kehidupan anak secara unik, dengan mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik masing-masing siswa12.

5. Perhatian terhadap Kebutuhan Dasar

  • Kebutuhan Dasar Anak: Program bimbingan dan konseling di SD harus peduli terhadap kebutuhan dasar anak, seperti rasa aman dan dukungan emosional34.

6. Pentingnya Usia Sekolah Dasar

  • Tahapan Penting dalam Perkembangan: Program bimbingan di SD meyakini bahwa usia sekolah dasar merupakan tahapan yang sangat penting dalam perkembangan anak. Pengalaman yang diperoleh selama masa ini akan membentuk karakter dan keterampilan sosial anak di masa depan23.

Kesimpulan

Melalui bimbingan dan konseling, peserta didik di SD dapat diarahkan untuk menjadi pribadi yang seimbang, memiliki keterampilan hidup yang baik, serta mampu menghadapi tantangan kehidupan dengan percaya diri. Dengan demikian, bimbingan dan konseling tidak hanya berfungsi sebagai layanan untuk mengatasi masalah saja, tetapi juga sebagai sarana untuk mengoptimalkan potensi dan kualitas hidup siswa dalam berbagai aspek14.

Artikel Terkait